Oleh : Ahmad Alwajih
Mungkinkah di tengah-tengah kesengsaraan yang melilit-lilit muncul sebuah keajaiban? Dan keajaiban itu yang mengubah segala kesusahan menjadi kesenangan. Kita tak perlu lagi bercumbu dengan keprihatinan. Cukuplah memejamkan mata sembari mengucap mimpi lalu impian kita langsung menjadi kenyataan.
Tak mungkin, kata orang-orang sukses berdasi itu. Katanya lagi, kesenangan itu bisa diperoleh dari kerja keras. Kau harus berpeluh darah dan bermandikan keringat untuk mampu merasakan nikmatnya dunia. Ini dunia nyata, saudara-saudara. Bukannya surga yang serba asik seperti dongeng atau legenda. Barulah setelah punya banyak modal, kesengsaraanmu sudah menghilang berganti apa saja yang kau inginkan.
Kesemua itu hanya ada pada dunia manusia. Itu tak berlaku bagi saya. Sebab, saya lah pencipta kesenangan dan kesedihan. Saya lah pencipta rasa sakit dan bahagia. Sekaligus pencipta surga dan neraka. Saya tak perlu mengalami kesusahan karena saya tak tinggal di dunia. Saya berada di sebuah dimensi yang tak mungkin dijangkau akal sempit manusia. Suatu tempat yang bukan sesuatu.
Saya bebas terbang menjelajahi semesta. Dari galaksi bimasakti tempat manusia-manusia itu mengadu nasib, saya bisa melompat sesukanya ke galaksi lain. Tak memakai pesawat atau apapun istilah-istilah manusia lainnya. Kalau sedang tak ada kerjaan formal, saya tambah kuantitas pelayan-pelayan di surga dan bersenda gurau bersama mereka, terbang di langitnya dan berenang bebas di perairannya yang jernih. Sungguh menyenangkan, makanya kau harus mencobanya kelak. Kerjaan lainnya, sesungguhnya sangat banyak. Tak perlu saya sebutkan di sini, nanti kapasitas otakmu yang tak seberapa itu pusing bermilyar keliling. Di antaranya, sesekali lah turun ke bumi untuk melihat sejauh mana perkembangan manusia. Dan sampai hari ini, ya begitu-begitu saja. Membosankan.
Sebab masih banyak di antara mereka yang tak mengerti untuk apa mereka hidup. Mereka ini menyalahkan saya terus. Dasar manusia! Tak tahu bagaimana caranya bersyukur. Padahal, sudah saya berikan otak dengan desain terbaik untuk mereka. Ukurannya memang kecil, tetapi cukuplah untuk menampung berjuta-juta atau bahkan bermilyar-milyar potensi istimewa yang mampu menandingi makhluk favoritku, jin ifrit. Itu semua tinggal pandai-pandainya mereka sendiri. Yang bikin kecewa itu mereka yang tak tahu bagaimana cara memanfaatkannya sebab kemalasannya sendiri.
Ada yang lebih parah lagi. Ada yang merasa dirinya sudah meraih segala pencapaian terhebat, mereka ini sudah merasa menyamai saya. Mereka ini biasanya kalangan jutawan, milyarder, atau orang-orang yang sok-kaya. Atau biasanya lagi kalangan ilmuwan, intelektual-intelektual yang baru baca beberapa lembar buku saja sudah sombongnya selangit. Huh! Saya cabut semua itu tahu rasa mereka. Tetapi, saya cukup murah hati membiarkannya barang sesaat lagi. Toh hidup manusia itu tidaklah lama. Paling-paling beberapa tahun lagi. Saya ingin memberikan kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki diri.
Jika masih belum bisa introspeksi dan memperbaiki diri, jangan salahkan saya kalau suatu ketika mendapat sandungannya. Ingatlah dan bukannya saya mengancam, saya ini maha konspirator musibah. Saya bisa merubuhkan ego mereka yang sebesar kepalan tikus menjadi kepingan-kepingan sampah tak berguna. Biasanya sih saya merancang sebuah konspirasi maha hebat dan jahat yang mengatur kejatuhan mereka. Dan kalau sudah jatuh bergedebuk, barulah mereka sadar kelemahan diri sendiri. Konyolnya.
Tiba-tiba saja telinga ultra-sonik saya menangkap sinyal-sinyal kegelisahan. Ai ai, ada doa setulus hati terdengar merdu melebihi suara orkestra manapun di dunia. Ah, lihatlah, bahkan malaikat-malaikat saya tertunduk khusuk mendengarkan alunan keikhlasan itu. Sementara bidadari-bidadari di surga melayang-layang mengikuti getaran spiritual itu. Semuanya indah dan mesra.
Marilah mendengarkan apa isi doa setulus jagad itu. “Untukmu Yang Maha Segalanya, hari ini dagangan hamba tak laku. Padahal, sampai serak rasanya tenggorokan saya teriak-teriak menawarkan, arem-arem, teh kotak, endhog asin (telur asin),. Monggo mas, mbak, bapak-bapak, ibu-ibu, begitulah..tapi tak ada juga yang membeli. Jangankan tertarik, ngelirik saja ogah. Padahal, anak-anak saya belum bayar uang sekolahnya. Suami saya seharian ini sudah capek ke sana-ke mari keliling kota narik becak tapi belum dapat penumpang juga. Bagaimana ini, tuhan? Hamba mesti berbuat apa? Sepertinya sudah tak bisa apa-apa lagi selain berdoa seperti ini. Yah, semoga engkau mendengarkan keluh kesah hamba. Kabulkanlah tuhan, kalau bisa sih secepatnya. Soalnya tenggat waktu pembayaran tinggal 5 hari lagi. Oh ya, gusti, hamba tidak maksa lho, Cuma minta pengertiannya aja. Ngerti toh?. Amin.”
Kasihan ibu ini. Saya lihat dulu arsip-arsip hidupnya. Saya tinjau track recordnya selama 40 tahun terakhir ini. Ibadahnya rupanya sering absen. Itu bisa dimaklumi sebab orang ini seharian bekerja. Keluar rumah sejak terbitnya fajar hingga menjelang senja. Capek, penat, dan lelah mendera tubuhnya sehingga ia tak mampu menempelkan dahinya untuk bersujud. Ya sudah, saya kabulkan saja doanya. Lagipula dia ini bukan hamba yang hobi durhaka. Saya bikin tangan-tangan orang sekitarnya tergerak untuk membeli barang dagangannya. Sementara buat suaminya, saya gerakkan hati para turis manca negara dan lokal untuk naik becaknya keliling kota, biar nanti ia dibayar dollar atau euro. Lumayan untuk menambal kesulitan mereka sekeluarga Selesai perkara.
Saya suka dan lebih sering mengabulkan doa orang-orang seperti ini. Jujur, apa adanya, tidak mengandung unsur-unsur politis yang murahan (seperti doa calon-calon anggota dewan itulah), dan tentu saja setulus hati.
Doa yang tak kalah jujurnya biasanya dari anak-anak kecil. Misalnya doa si fulan anak tukang bangunan itu. “tuhan, besok ujian matematika. Berikan saya mimpi jawabannya malam ini biar dapat nilai bagus. Makasih ya tuhan. Amin”
Betapa polosnya! Rasa-rasanya sudah jarang saya menemukan yang seperti ini. Jaman sekarang, otaknya orang-orang sudah nggak ada yang bersih. Berdoa jujur saja susahnya minta ampun. Kadang-kadang masih diembel-embeli muatan politis segala. Jadinya bukan doa yang ia haturkan, tapi kontrak politik Lucu sekali. Misalnya seperti doanya bapak-bapak yang duduk di ujung sana, “gusti, kalau saya tidak ketahuan korupsi, akan saya sedekahkan 2,5 % uang hasil korup saya ini buat anak-anak yatim, lalu hapuskanlah dosaku. Amin.” di dalam hati masih dilanjutkan,”karena kau tuhanku, maka kau pasti tahu yang kumau…”
Puah. Lama-kelamaan saya merasa bosan pada kehidupan manusia yang begini-begini saja. Akhirnya, sekali tepuk, melesatlah malaikat-malaikat kepercayaan saya pembawa muatan kiamat melaksanakan tugasnya menabur maut. Dan yang terjadi kemudian, terjadilah…..
Semua remuk, hancur, lalu melenyap. Tinggallah saya sendirian di tempat saya bersemayam dengan santai sambil merencanakan episode kebangkitan berikutnya.